Sunday, October 19, 2008

CS-1



Handling sangat stabil saat diajak manuver ekstrem

PT Astra Honda Motor (AHM); CS-1 (City Sport One). Di sirkuit Kenjeran Park, Surabaya, Jatim (6/4), Mr. Testo diberi sesi khusus untuk meladeni ketangguhan kuda besi spesies baru ini.

Kok khusus? Iya dong, wong di saat bersamaan banyak media lain juga diundang, kok. Makanya, biar gak ngeganggu kekhusyuan kami, tempat dan waktunya juga dipisahkan. Hingga akhirnya, performa si x-over motorcycle ini tergambar jelas. Top speednya; 115 km/jam.

BAWAH KE TENGAH BERTENAGA
Desain CS-1 benar-benar nyeleneh dan out of the box. Mungkin julukan yang tepat adalah bebek super atau bebek sporti. Karena ini bebek bertenaga super yang tampilannya nan sporti. Kalo disingkat, boleh dong kita sebut bekti (bebek sporti)?

Seperti kata Mr. Miki Yamamoto, presdir PT AHM, “Motor ini modelnya benar-benar baru di dunia. Kami jadi yang pertama main di kategori ini.” Ini pun tergambar waktu Mr. Testo duduk di jok CS-1. Nuansanya bener-bener baru. Riding positionnya mirip bebek.

Namun kesan yang tertangkap saat pandangan manyapu bagian depan, justru seperti naik motor jenis sport. Mungkin efek dari rancangan bodi tengah yang sekilas bak tangki di motor sport. Padahal letak tangki adanya di bawah jok kayak bebek.


Dipakai boncengan ayunan suspensi tetap nyaman

Sementara bagian dalam bodi tengah yang mirip tangki, fungsinya justru sebagai bagasi. Hebatnya, meski tampilan bodi terkesan gede bila dibanding bebek umumnya, bobot CS-1 terasa sangat ringan lo. Berat kosong hanya 114 kg.

Tak sabar, mesin pun distarter. Dapur pacu berkonfigurasi tegak dengan kapasitas murni 124,7 cc langsung menyala. Begitu pula ketika Mr. Testo mencoba menghidupkan pakai kick starter. Padahal kompresi mesin yang mencapai 10,7:1 tergolong tinggi lo.

CS-1 segera dituntun masuk lintasan sirkuit Kenjeran yang sudah clear. Satu lap pertama Mr. Testo mengelilingi lintasan guna menghafal trek yang banyak dihiasi tikungan lebar dan chicane serta mencari racing line ideal. Biar tidak salah buka tutup gas dan menentukan titik pengereman.

Setelah yakin, memasuki lap kedua Mr. Testo langsung memelintir gas sedalam-dalamnya untuk mengetahui seberapa besar entakan tenaga yang mampu dihasilkan mesin berteknologi SOHC dan berpendingin udara yang dipakai CS-1.

Alamak, meski kapasitas mesin hanya 125 cc dan jumlah katup di kepala silindernya cuma 2 buah, respons tenaga mulai putaran bawah hingga tengah terasa gede. Akselerasi motor mampu melesat cepat waktu grip gas mulai dibuka. Beda deh dengan bebek sekelas.

Buktinya saat diukur Vericom VC3000, untuk mencapai jarak 0–201 meter, CS-1 hanya butuh 12,28 detik (bobot Mr. Testo 77 kg). Sayang, kemampuan top speed-nya saat diuji terpisah hanya mentok 115 km/jam. Mungkin karena putaran mesin sengaja di-limit tidak terlalu tinggi lewat CDI. “Limiter-nya dipatok cuma sampai 11.300 rpm. Untuk alasan safety,” beber Wedijanto, technical service AHM.

Soal handling, CS-1 patut diacungi jempol. “Dipakai menikung ekstrem sasis tak terasa ‘lari-lari’. Bobot motor juga terasa enteng, sehingga manuver motor sangat lincah,” bilang Agus Bleduk, pembalap road race nasional yang ikut menjajal performa motor yang on the road Rp 16,9 juta (Jakarta) ini dalam acara launching CS-1 di Mall Pakuwon, Surabaya.

Padahal posisi setang tampak tinggi lo. “Beda dengan Honda Sonic 125 yang setangnya lebih rendah,” lanjut Agus. Sebelum menjajal langsung, Mr. Testo juga sempat mengira dengan posisi kemudi seperti itu, CS-1 akan sulit diajak menikung rebah. Ternyata perkiraan itu meleset. Motor ini justru mantap diajak menikung sampai foot step depan menyentuh aspal. Wajar bila motor ini oleh AHM disasarkan untuk kawula muda perkotaan yang doyan kecepatan dan gaya.

Data akselerasi
0 – 60 km/jam : 5,59 detik
0 – 80 km/jam : 8,48 detik
0 – 100 meter : 7,54 detik
0 – 201 meter : 12,28 detik
Top speed : 115 km/jam (bobot tester 78 kg)
Konsumsi BBM : 46,2 km/liter (kecepatan max tak lebih dari 70 km/jam)

Data spesifikasi
P x L x T : 1.932 x 682 x 1.042 mm
Jarak sumbu roda : 1.251 mm
Ground clearance : 130 mm
Berat kosong : 114 kg
Tipe rangka : Twin tube frame
Suspensi depan : Teleskopik
Suspensi belakang : Swing arm, monosok
Ban depan : 70/90-17 M/C 38P
Ban belakang : 80/90-17 M/C 44P
Rem depan : Cakram hidraulik, piston ganda
Rem belakang : Cakram hidraulik, piston tunggal
Kapasitas tangki : 4,1 liter
Tipe mesin : 4-Tak, OHC, 2 katup
Sistem, pendingin : Radiator dengan kipas elektrik
Bore x stroke : 58 x 47,2 mm
Kapasitas murni : 124,7 cc
Rasio kompresi : 10,7:1
Tenaga maksimum : 12,66 dk/10.ribu rpm
Torsi maksimum : 10,2 Nm/7.500 rpm
Sistem kopling : Manual, multiplate wet clutch
Transmisi : 5-speed, 1-N-2-3-4-5
Starter : Electrik dan kick starter Aki : MF, 12 V-3,5 Ah
Sistem pengapian : DC-CDI

Test Ride Kawasaki Ninja 250 R

Masih penasaran sama Kawasaki Ninja 250? Oke, Mr. Testo mo cerita pengalaman saat ngetes, nih! Pastinya to the point aja, ya! Dari segi tampilan tentu Anda sudah pada tau bentuknya seperti apa. Buat yang belum tau, silakan pelototi gambarnya di sini.

Nah, saat ngambil unit tesnya dari PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) di Pulogadung, Jaktim, Reiner M. Sitorus, senior manager bagian spare part & service KMI kasih wejangan. “Motor ini bensinnya unleaded (tanpa timbal) dan minimal pakai yang beroktan 92 atau setara Pertamax. Sebab rasio kompresinya tinggi lo, yakni 11,6:1. Sedang kapasitas tangkinya mencapai 18 liter.”

Kebetulan Ninja 250R yang dipinjamkan ke Mr. Testo warnanya hitam. Kondisinya gres dan jarak tempuh di odometer baru 2 km. Sementara saat ini yang dijual di Indonesia baru 3 warna. Dua lainnya, lime green dan passion red. Tampilan ketiganya sama-sama cihuy deh, mengisyaratkan performa dan kejantanan. Selepas dari KMI, Mr. Testo langsung inreyen keliling kota Jakarta. Niatnya sekalian pengen tau rasanya naik motor berkonsep sport tulen yang posisi setangnya merunduk plus bodi full fairing dengan dimensi lumayan gede di kemacetan ibu kota.


Kental nuansa moge

Empasan suara khas motor multisilinder
Hasilnya, baru berjalan sekitar 1/2 jam pada jam kerja (sekitar pukul 12.00-13.00 siang), Mr. Testo langsung terjebak macet di kawasan Pasar Senen, Jakpus. Meski begitu, jarak himpitan mobil dan bus gede belum begitu rapat, sehingga tidak menyulitkan Mr. Testo untuk nyelip secara perlahan. Namun begitu berhadapan sama lampu merah, himpitan kendaraan makin rapat, Mr. Testo harus pasrah mengantre di belakang rentetan biker lainnya.

Alamak, baru 5 menit di lampu merah, hawa panas cukup menyengat mendadak menyerang seputar paha bahkan hingga ke muka. Itu bukan hanya karena terik matahari di ubun-ubun. Melainkan juga lantaran hawa panas mesin lewat celah-celah di fairing serta semburan kipas radiator dari dekat setang.

“Rasanya saat itu gak betah. Memang sih naik motor ini serasa naik moge, sehingga berkesan macho. Tapi konsekuensinya ya sama juga kayak moge. Efek hawa panas mesinnya itu lo, kalau berhenti lama bakal sangat terasa, hehehe..,” tutur Mr. Testo.

Maklum, konsepnya kan motorsport. Sudah pasti lebih sip diajak melesat di kawasan bebas hambatan. Misal keluar kota dan sebagainya. Sehingga hawa panas mesin tak akan dirasa. Sementara kalau dipakai buat beraktivitas sehari-hari di daerah kota yang belakangan kian macet, ya harus siap risiko tadi.

Sebaliknya, paling sip ya dipakai buat gaul. Misal dibawa kongkow dengan teman-teman ke kafe, tempat tongkrongan atau dipakai berlibur. Pastinya, saat kondisi adem, misal pagi, sore atau malam. Dijamin Anda tak akan kegerahan, deh.

Oh ya soal performa mesin, Anda tak perlu ragu lagi. Top speed motor dengan jumlah transmisi 6-percepatan ini mampu tembus hingga 160 km/jam pada gigi 6. “Kecepatan segitu didapat pada putaran mesin 13.000 rpm di jalan datar,” terang Mr. Testo. Lalu, lanjut Mr. Testo yang berbobot 78 kg, karakter transmisinya rapat-rapat antar giginya alias close ratio.

Torsi mesin di putaran bawah juga dahsyat untuk ukuran motor 250 cc. Meski max torquenya, 22 Nm didapat pada putaran mesin tinggi (9.500 rpm). “Pelintir gas dikit aja, motor langsung ngibrit. Apalagi kalau main slip kopling,” tambah Mr.Testo. Entakan power di putaran tengah hingga atas pun terasa ngisi terus. Apalagi dikombinasi transmisi close ratio. Membuat tenaga putaran mesinnya di tiap gigi seperti tak putus-putus.

Sementara buat dipakai berkaselerasi normal atau sedang, cukup lakukan pergantian gigi pada putaran mesin sekitar 4.000-5.000 rpm. Dengan cara berkendara seperti itu dan kecepatan dipatok tak lebih dari 70 km/jam pada gigi 6, konsumsi bensinnya masih bersahabat. Yakni 1 liter Pertamax bisa 30,625 km.

Data Pengetesan KLX250S Ninja 250
Akselerasi
0 – 60 km/jam : 3,2 dtk
0 – 100 Km/jam : 8,1 dtk
0 – 201 meter : 10 dtk
0 – 402 meter : 16 dtk
Top Speed (gigi 6) :160 km/jam
Konsumsi BBM : 30,625 km/liter

Penulis : Dic, Oct (Tabloid OTOMOTIF)

Thunder 125 Vs. Bajaj XCD 125

Suzuki Thunder 125 VS Bajaj XCD 125

Membandingkan performa 2 sport berkapasitas 125 cc menempuh Jakarta-Bandung PP

Saat merilis Bajaj XCD 125 DTS-Si, Apong Arfiansyah, manajer marketing PT Bajaj Auto Indonesia (BAI) bilang, sport ber-cc kecilnya itu dipasang buat meraup pasar bebek di kelas sama. Tapi tak mustahil, ini mengganggu Suzuki Thunder 125.

Maklum, jagoan PT Indomobil Niaga Internasional (IMNI) itu berada di kelas serupa Exceed. Hal itu tentu bikin pusing konsumen. “Pilih yang mana, ya?” gitu kira-kira pertanyaan mereka. Makanya, Mr. Testo pun melakukan tes jarak jauh, Jakarta-Bandung-Jakarta kedua produk tersebut.

Model & Desain


Diajak manufer di trek menikung

Di bagian depan alias headlamp, Exceed tampil dengan model masa kini yang sama seperti 2 pendahulunya (Pulsar 180 DTS-i dan 200). Sementara Thunder 125 tampil elegan dengan desain headlamp bulat nan klasik.

Beralih ke bodi, Thundie bisa dibilang sedikit lebih makmur. Maklum, tampak chubby alias gendut. Sebaliknya, Exceed demi mendukung tampilan, sosoknya tampak lebih ramping. Gitu juga di buritan, konturnya lebih lancip dan futuristik.

Fitur & Teknologi
Spidometer digital XCD ada odometer, indikator bensin, aki, lampu jauh dan lainnya. Sebaliknya, meski punya Thunder lebih sederhana, tapi ada keunggulannya. Sebab selain ada indikator persneling juga indikator pembaca putaran mesin.

Di mesin, jagoan India pakai teknologi DTS-Si yang diakui bisa mengoptimalkan pembakaran sehingga didapat tenaga besar dengan pemakaian bensin irit dan juga ramah lingkungan. Sedangkan Thunder, buat urusan gas buang ramah lingkungan, diandalkan sistem PAIR (Pulsed Secondary Air System).

Di Exceed, masih ada satu lagi kelebihannya. Yakni tombol pengontrol buka tutup gas (ride control). Ini untuk mengontrol buka tutup gas, agar pemakaian bensin jadi lebih irit.

Handling

Model setang yang rendah ala motor sport sejati, membuat pembesut Thunder bertinggi badan di atas 175 cm sedikit merunduk. Tapi desain seperti ini malah membuat Thunder tetap nyaman dan stabil saat diajak bermanuver sedikit ekstrem di kawasan Lembang, Bandung.

Sementara dengan setang lebih tinggi, pastinya membuat Exceed jadi lebih lincah saat menyibak kemacetan kota Bandung di akhir pekan. Riding position jadi lebih rileks karena gak merunduk. Tapi manuvernya jangan terlalu ekstrem, ya!

Performa

Meskipun ngandelin 4 percepatan plus tenaga maksimum 9,53 Hp/7.000 rpm, XCD tetap mampu berakselerasi cepat dan lincah. Sedangkan data speknya, ‘motor Om Farhan’ punya 5 gigi percepatan dan tenaga maksimum 11,5 Hp/9,500 rpm. Wajar kalau tenaga atasnya lebih yahud.

Saat melibas trek lurus, mulai start akselerasi Exceed langsung terasa gesitnya. Sementara Thunder perlu jeda sesaat. Tapi boleh dibilang performa menengah kedua motor ini imbang. Jika saat awal start Exceed di depan tapi beberapa saat saja Thunder mampu mengekor lantas mendahului motor India. Nah, mau tau data persisnya kalau pakai alat ukur Vericom VC2000, lihat tabel berikut.

Tabel Tes Vericom
Thunder 125 XCD 125 DTS-Si
Jarak Waktu Waktu
0-100 M 7,57 dtk 7,94 dtk
0-201 M 12,17 dtk 12,30 dtk
Speed
0-60 km/jam 9,39 dtk 9,89 dtk
Top Speed 110 km/jam 95 km/jam

Konsumsi BBM

Buat menempuh Jakarta-Bandung-Jakarta (plus muter-muter), Suzuki Thunder ternyata hanya minum bensin sebanyak 10,7 liter (jarak tempuh 417,8 km). Dengan perhitungan sederhana didapat pemakaian 1 liter bensin untuk jarak tempuh 39,04 km.

Beda tipis dengan konsumsi BBM dari Exceed. Dengan jarak tempuh 319 km, bensin yang ditenggak 8,31 liter. Dari angka tersebut didapat 1 liter bensin mampu membuat Exceed lari sejauh 38,38 km.

Harga

Selain kapasitas mesin, soal harga jual on the road juga membuat ke-2 motor sport kecil ini bersaing. Gimana enggak? Wong selisih harga dari ke-2 motor itu adalah Rp 500 ribu (Thunder Rp 14,3 juta dan Exceed Rp 13,8 juta)

MIo Vs. BeAT

Komparasi Yamaha New Mio VS Honda BeAT

Honda BeAT

Yamaha New Mio

Real battle. Itu ungkapan yang pas buat ngegambarin komparasi Honda BeAT Vs Yamaha New Mio (NM) kali ini. Lo? Yups, selain kedua skutik ini sama-sama baru, keduanya juga pernah kami komparasi. Jadi ini tanding ulang. Apalagi dimensi keduanya mirip.

Enggak percaya? Nih kite kasih sedikit data speknya. BeAT andalan pabrik berlambang sayap mengepak punya Tinggi 1.859 X Lebar 876 X Panjang 1.053 mm. Nah sementara jawara dari Yamaha punya dimensi 1.820 x 675 x 1.050 mm.

Beda tipis juga berlanjut ke urusan ground clearance. BeAT disetting dengan jarak 156 mm dan NM sedikit lebih pendek yakni 130 mm. Nah ini dia, untuk panjang sumbu roda keduanya sama-sama memakai ukuran 1.240 mm. Oke deh, langsung saja simak hasil komparasi 2 skutik paling anyar yang mengaspal di jalanan Tanah Air.

Desain
Secara kasatmata, desain BeAT sedikit banyak merefleksikan Honda Vario yang lekukannya lebih banyak menyudut. Gitu juga New Mio, lekukan melengkung pada beberapa bagian di bodi Mio lawas, masih dipakai sebagai ciri khas skutik andalan Yamaha ini.

Fitur

Mulai dari atas dulu. Meski desainnya berbeda, namun spidometer manual (jarum) dengan tulisan angka kecepatan dipadu warna energik, masih menjadi andalan kedua skutik ini.

Soal penerangan, lagi-lagi milik BeAT ini mirip Vario. Meski konturnya berbeda, pancaran cahaya disorotkan langsung dari tameng depan. Nah Mio, letak dan desain headlamp-nya masih kayak yang lama. Tapi si NM ini jadi tampak beda, karena ada ubahan pada desain dan tata letak lampu sein dan lamu kota. Lainnya, di BeAT juga banyak mengadopsi fitur safety kayak Vario (parking break lock dan side stand).

Handling

Mirip yang lama, New Mio ini masih enak diajak bermanuver di kemacetan. Hal sama juga terasa saat BeAT diajak zig-zag di jalanan Jakarta yang cenderung padat merayap. Tapi perbedaan akan terlihat ketika BeAT dibesut biker bertinggi di atas 175 cm. “Lutut sedikit mentok di dek depan,” gumam Mr. Testo.

Uji keseimbangan kendaraan dengan lepas tangan juga dilakukan. Hasilnya bodi NM langsung dirasakan sedikit ngebuang ke kiri sementara BeAT tetap jalan lempeng. Saat dibawa menikung, suspensi emang terasa mantap. Tapi saat BeAT dibawa rebah, ada sedikit perasaan canggung. “Kemungkinan kompon ban yang dipakai BeAT,” ulas Mr. Testo. Sebaliknya jagoan Yamaha, tetap tenang saat dipakai buat tes menikung dengan ekstrem.

Performa
Akselerasi NM agak lamban. Itu kebalikan saat Mr. Testo berbobot 65 kg tarik gas BeAT. Semua itu tentu dibuktikan juga lewat data tes pakai alat ukur merek PerformanceBox buatan Inggris. Di mana untuk bisa menggapai kecepatan 0-60, BeAT membutuhkan waktu 7,6 detik dan NMS 7,9 detik. Tipis...!

Namun hasil agak berbeda tercatat saat pengukuran dilakukan pada jarak tertentu. Masih memakai PerformanceBox, saat jarak dipatok 0-100 m, NM mampu menorehkan catatan 8,2 detik dan itu lebih cepat 0,3 detik dibanding BeAT.

Tes berikutnya, jarak 0-201 m. Untuk putaran mesin dari tengah ke atas, ternyata BeAT masih lebih unggul dari NM (data lihat tabel). Hm.. kayaknya rasio kompresi yang 9,2 : 1 plus kombinasi diameter piston yang 50 mm X panjang langkah 55 mm, membuat akselerasi mesin putaran bawah BeAT lebih yahud.

Untuk NM sendiri, kompresi 8,8 : 1 mm dan diameter piston 50 X panjang langkah 57,9 membuat tenaga putaran mesin tengahnya dapat diandalkan.

Speed BeAT NM
0-60 7,6 dtk 7,9 dtk
0-80 14,78 dtk 16,5 dtk

Akselerasi Jarak
0-100 8,5 dtk 8,2 dtk
0--201 13,8 dtk 14,5 dtk

Konsumsi Bensin
Metodenya, skutik dipakai jalan Mr. Testo. Kecepatannya, jarum spidometer kedua skutik sama-sama dipanteng antara 60-70 km/jam. Nah, setelah menempuh jarak 10 km, BeAT yang kapasitas mesinnya 110 cc sanggup menempuh jarak 50 km untuk 1 liter bensin.

“Saat mencoba di NM yang volume mesinnya 115 dengan jarak yang sama, jarak tempuh yang didapat 44,4 km untuk pemakaian 1 liter bensin,” terang Mr. Testo. Sedikit lebih boros, karena memang karakter mesinnya yang cenderung enak di putaran menengah ke atas. Sementara di bawah, perlu lebih dalam memelintir bukaan gas.

Harga

Dengan pengaplikasian fitur yang terbilang lebih banyak dari NM, wajar kalo BeAT yang hanya ada pelek racing (CW) dijual sedikit lebih mahal; Rp 12 juta (on the road) DKI. Sedang NM, dipasarkan Rp 11.885.000 dan yang jari-jari Rp 11.160.000 (DK

Kesimpulan Mr. Testo
Dua pabrikan Jepang ini sama-sama kuat. Sama-sama punya nama dan produk inovatif. Hanya saja, Honda menang di umur. Tapi Yamaha udah lebih dulu jualan skutik (market leader). Kalo soal tampilan, pastinya kedua skutik ini gaul banget. Mio lebih universal, sementara BeAT kental nuansa anak mudanya.

Nah dari situ bisa diputuskan, Anda skutiker tipe apa? Agresif dan dinamis, monggo BeAT dilirik. Tapi kalo elegan, Mio dipastikan cocok buat Anda. Lainnya, harga second Mio(versi lama) masih bertahan tinggi. Sementara BeAT belum terdeteksi, karena masih baru. Selamat memilih!

Penulis : Tim OTOMOTIF

Supra PGM-FI Vs Shogun FI



Akhirnya, jagoan PT Astra Honda Motor (AHM); Honda Supra X 125 PGM-FI gak bisa ngejomblo lagi. Maksudnya melenggang sendirian di pasar. Karena PT Indomobil Niaga Internasional (IMNI), ATPM Suzuki juga sudah merilis New Shogun 125 FI. Nah, dengan makin memprihatinkan bahan bakar minyak akhir-akhir ini, tentu pilihan motor hemat bensin jadi solusi andal. “Pastinya untuk mengetahui kehebatan tiap produk, mesti dites bareng, nih!” ajak kata Mr. Testo. Yuk, ah!



Desain
Mirip Shogun pendahulu, desain si Hyper Injection ini juga tampak ramping dengan lekukan-lekukan tajam. Sementara di Supra terlihat lebih semok alias padat berisi. Ini terefleksi lewat kontur sayap yang 2 piece.

Baik Shogun maupun Supra punya lampu sein yang diletakkan pada cover dada. Namun dengan tampilan seperti mempunyai alis (kentara sekali saat lampu kota yang dinyalakan), Supra tampak semakin elegan dan berkarakter.

Fitur
Dari yang paling atas, yakni spidometer. Supra X125 PGM-FI tetap mengandalkan jarum sebagai penunjuk lari motor. Agar selalu terkontrol kinerja sistem injeksinya yang ada dalam tangki bensin, indikator dengan gambar mesin jadi penunjuknya.

New Shogun 125 Hyper Injection FI juga gitu. Sistem pencatat kecepatannya juga masih manual dengan jarum sebagai penunjuk. Hanya saja, sebagai indikator pemantau kerja sistem injeksinya, Shogun memakai lampu panel bertuliskan FI.

Agak ke bawah, keduanya sama-sama pakai shutter key bermagnet. Tapi pada New Shogun fungsinya enggak hanya sebagai kunci kontak & kunci setang. Ada tambahan soal membuka jok yang bisa langsung dari kunci kontak.

Oh ya, di New Shogun juga ada satu fitur safetynya lo. Saat kunci dalam keadaan on, Shogun enggak bisa langsung dinyalakan pakai electric starter. “Baru akan nyala saat handle rem depan ditarik,” jelas Mr. Testo.



Performa
Jalan datar jadi pilihan untuk urusan tes perfoma 2 bebek injeksi ini. Dengan paduan diameter piston 52,4 mm dan panjang langkah yang 57,9 mm, membuat jagoan Honda mampu mencatat akselerasi 6,7 detik untuk mencapai kecepatan 0-60 km/jam. Pada Shogun yang punya diameter piston 52,4 mm dan panjang langkah 57,9 mm, ternyata bisa lebih cepat, yakni 6,0 detik.

Nah untuk pengetesan dengan jarak tempuh 100 m sebagai tolak ukurnya, catatan waktu ke-2 beksi (bebek injeksi) enggak jauh berbeda. Artinya baik Supra maupun Shogun sama-sama tangguh bermain di putaran mesin atas.

Tabel Data by Racelogic

Speed = Supra = Shogun
0-60 km/jam = 6,7 dtk = 6,0 dtk
0-80 km/jam = 11,8 dtk = 10,7 dtk

Akselerasi
Jarak
0-100 m = 8,3 dtk = 8,3 dtk
0-201 m = 13,1 dtk = 13,0 dtk



Handling
Mau menikung ekstrem alias rebah ala pembalap MotoGP? Untuk Supra X125 PGM-FI ternyata sedikit sulit. Hal itu karena suspensi belakang yang masih terlalu keras. “Coba saja rasakan saat menikung pada jalan yang konturnya sedikit bumpy. Pasti reboundnya terasa lebih cepat,” analisa Mr. Testo.

Ikutan riset motor untuk dunia balap nasional, membuat Suzuki sedikit lebih paham soal urusan handling motor yang lebih oke. Saat dites pada kontur jalan keriting, dirasa rebound suspensi belakang New Shogun 125 FI ini lebih sip.

Buat konsumen biasa yang fungsinya untuk kegiatan sehari-hari, 2 motor tipe beksi ini asoy geboy deh untuk bermanuver di kepadatan lalu-lintas kota Jakarta.

Konsumsi BBM
Dengan bobot Mr. Testo yang 65 kg, kecepatan dipanteng pada angka 60 km/jam dan jarak tes konsumsi bensin 10 km, didapat catatan bahwa Supra X125 PGM-FI mampu berlari sejauh 76 km/liter. Catatan itu ternyata beda tipis saat pengetesan pada New Shogun 125 Hyper Injection FI. Angka 76,5 km menjadi catatan Shogun untuk menghabiskan bensin 1 liter.

Harga
Setelah melihat, menimbang dan memutuskan, kalo pilihan Anda Supra X125 PGM-FI, tinggal transfer saja dana sebesar Rp 15.900.000. Sedang Shogun Rp 15.450.000 on the road.

Catatan Mr. Testo
Kedua produsen sama-sama konsen sama produk injeksinya ini. Terutama soal konsumsi bensin. Dengan teknologi dan inovasinya, mampu menghasilkan besutan yang irit BBM. Tapi keduanya hanya beda-beda tipis, kok. Gitu juga soal harga yang main di angka Rp 15 jutaan. Rasanya cukup terbayar.

Sekarang balik ke soal selera motormania masing-masing. Contoh soal karakter, Shogun layak dipinang buat yang suka nuansa gesit dan agresif. Sementara Supra lebih ke arah sedikit nyantai. Karena desainnya cenderung elegan.

Kondisi Busi..

Ada lagi nih info penting buat FU rider yang masih bingung kondisi busi.

motor yang baik dapat dilihat dari kondisi busi nya, apakah boros, kekeringan, atau dalam pembakaran sempurna. nah biar ga bingung lagi liat aja itu kondisi busi langsung.

1. Busi Overheat
Busi yang overheat akan kehilangan berglasir atau keliatan berpasir putih halus. Overheat disebabkan antara lain oleh panas yang terlalu tinggi dibanding tingkat kompresinya, saluran pembuangan (knalpot, muffler/silencer) yang kurang lancar, waktu pengapian tidak tepat (terlalu cepat) atau pendinginan mesin kurang memadai. settingan terlampau kering bgt, Coba ganti mainjetnya yang lebih besar dari ukuran yg sebelumnya

2. Busi Berkerak
Busi berkerak menunjukkan kurangnya kompresi yang menyebabkan sisa-sisa pembakaran menumpuk di kepala busi. Bisa disebabkan antara lain karena bahan bakar kurang bersih atau terlalu banyak timbal (lead). Ini bisa menyebabkan busi memanas hingga bisa terjadi pembakaran sebelum busi memercikan api.

3. Busi Baik (optimal)
Kondisi busi yang baik, dengan campuran dan waktu pengapian yang tepat, pembakaran sempurna (efisien) dan suhu yang tepat. Umumnya berwarna kemerah-merahan menyerupai warna batubata pada centre electrode. Pilotjet dan Mainjetnya tepat begitu pula settingannya.

4. Busi Berkerak dan Berminyak
Kerak yang berminyak menunjukkan masalah serius pada sirkulasi oli. Mungkin pada ring piston atau dudukan atau karet pada klep yang sdh aus dan harus segera diganti. Lapisan kerak yang berminyak ini konduktif dan bisa menyebabkan pengapian yang tidak tepat.


5. Busi Aus
Busi yang sudah aus atau sudah seharusnya diganti mulai bekerja tidak efisien dan mulai terlapisi oleh campuran bahan bakar dan sisa-sisa pembakaran, menyebabkan efisiensi busi berkurang dan gap kepala busi yang membesar membebani sistem pengapian secara berlebihan.

6. Busi Dengan Campuran Kaya
Campuran terlalu kaya (banyak bensin, sedikit udara) ditunjukkan oleh lapisan bubuk hitam,menandakan kondisi busi mungkin OK, hanya campurannya yang terlalu kaya. Periksa kembali seting karburator. Bisa juga spuyernya dikecilin lagi ukurannya dari sebelumnya.

nah dari ke enam kondisi busi diatas kira-kira busi di motor qt gmana ya?? kalau tidak merah bata, coba di setting ulang. sehingga membuat motor kita lebih optimal tentunya.

sebagai tambahan mas andryana juga memberikan gambaran mengenai bagian busi itu tadi. jadi kita tahu struktur tentan busi.

yup info yang sangat membantu

Disadur dari:
http://www.e-dukasi.net

FU Ala Yoshimura

Smua rider fu yang dulu belum punya nih motor, pasti terbelalak matanya saat pertama kali liat iklan mengenai si hyper underbone. apalagi pas launching pertama kali, yang tampil si satria versi yoshimura.

nah setelah liat tu motor pasti kepikiran lagi “keren banget tu motor, gua harus beli nih!!”. nah sekarang pas udah kebeli kepikiran lagi deh pengen modif tu motor jadi seperti tu gambar (minimalnya!).

yup yoshimura edition, awal beredarnya si hyper underbone di Indonesia, tapi kira-kira apa saja ya pernak-pernik / part yang diganti dari si hyperunderbond. berikut fotonya, tapi maaf ya agak kecil.

nah yang pertama keliatan dari depan pastinya si batok lampu yang udah di tutup jadi hitam elegan seperti ini. tapi kalo buat harian lebih baik yang transparan biar waktu dipake malem lampunya masih bisa berfungsi dengan baik.

ini karburatornya warnanya hitam legam, mereknya yoshimura juga (emang ada ya karbu merek yoshimura??).

ini yang banyak di cari dan dipakai. knalpot asli yosimura jepang. haiikk.

foot step yoshimura yang sudah umum dipakai fu riders.

radiator (oil cooler) sama penutup head atas yang di cat serupa dengan merahnya body.

ban nya keren abiiiiis.. slick bro (merek nya ga tau juga :-) )

spidonya standar, tapi ditambah takometer digital yoshimura.

suspensi depan masih standar, ditambahin lagi stabiliser (sok damper)

kaliper rem, piringan dan peleknya standar abiees.

ada yang tau ini apa???? sepertinya sih saringan karbu deh, kalo ga salah :-)

rante RK plus gir warna gold. racing banget ya! (jadi ngiri pengen modif kaya gitu!!!)

yup itu sekelumit dari si yoshimura edition, bisa buat tambah referensi kan..

salam fu!

source:thaisuzuki
Di Sadur http://fatonikhotim.wordpress.com

Pasang Switch Ream Pada Footstep UnderBone

Buat smua rider Fu yang pake footstep underbone di Fu nya, harus memperhatikan keselamatan juga donk, terutama bt bagian belakang (lampu rem maksudnya). karena kasian kan bagi pemakai kendaraan yang ada di belakang bro semua. ingat brother keep safety.

Nah artikel berikut memang sudah tidak asing bagi semua rider, karena sudah ditulis di motorplus dan web nya SSFC. tapi sayang ga ada gambarnya, sehingga membuat yang membaca bingung deh. nah ini hasil pasang switch rem di footstep underbone FU ku. cara buatnya mudah dan murah.

yang pertama harus di siapkan yaitu switch rem depan, harganya murah kok sekitar Rp. 5000,-

Nah setelah itu ayo kita pasang. pertama buka dulu switch rem belakang fu, dan cabut kontak kabel dalamnya.

setelah itu siapkan dua buah kabel yang panjangnya kira-kira secukupnya aja deh, lalu kabel itu disambungkan dengan kabel bawaan switch rem belakang fu tadi.

nah setelah itu lalu sambungkan kabel tadi dengan switch rem depan yang akan kita gunakan sebagai swtich rem belakang.

setelah itu baru kita mulai pasang swtich rem tadi di footstep underbone fu. sebagai contoh footstep underbone yoshimura yang memang umum digunakan para pemakai fu. untuk posisi pemasangan silahkan berkreasi sendiri, tapi agar lebih mudah lihat foto di bawah ini.

yang harus diperhatikan adalah tombol penonjok switch rem harus berada tepat di atas tungkai footstep underbone, sehingga ketika tuas rem diinjak maka tombol swtich rem terangkat dan akan menghidupkan arus ke rem belakang. lalu untuk kerapihan silahkan tutup kabel tadi dengan solasi agar terlihat rapih dan tidak kemasukan air bila hujan.

selamat mencoba!!


from http://fatonikhotim.wordpress.com